Lagu Popular yang Menyadarkanmu Pentingnya Kesehatan Mental

Lagu Popular yang Menyadarkanmu Pentingnya Kesehatan Mental – Kesehatan mental merupakan salah satu isu yang kini disadari orang sebagai sesuatu yang tak bisa diremehkan. Tantangan dalam menangangi isu ini sebenarnya keterbukaan dan kepekaan akan perasaan pribadi juga orang di sekitar kita. Tak ada yang bisa membaca hati seseorang, bahkan terkadang kita saja tak yakin dengan apa yang kita rasakan.

Akan tetapi, banyak para pegiat seni yang menggunakan platform yang mereka miliki untuk makin terbuka dengan isu ini. Salah satu dari platform terefektif dan populer selain media visual adalah melalui media verbal dan musik. http://www.shortqtsyndrome.org/

Lagu Popular yang Menyadarkanmu Pentingnya Kesehatan Mental

Lewat alunan musik dan lirik yang pas, para musisi pun membagi perasaan mereka serta awareness tentang kesehatan mental. Berikut ini beberapa musik pilihan yang bisa kamu dengarkan, siap temani hari-harimu!

1. Deaf Havana – Happiness

Lagu Popular yang Menyadarkanmu Pentingnya Kesehatan Mental

Deaf Havana merupakan band asal Inggris yang digawangi lima sekawan. Sang vokalis, James Veck-Gilodi, juga sang penulis lagu, sering sekali menggunakan pengalaman pribadinya sebagai inspirasi.

Dia sempat mengalami depresi selama beberapa tahun hingga membuat band-nya sempat vakum bebeberapa tahun. Setelah itu mereka kembali di tahun 2017 dengan album baru yang temanya seputar kesehatan mental.

Salah satu dari lagunya ‘Happiness’, merupakan lagu rok alternatif dengan sentuhan instrumen akustik. Liriknya berkisah tentang hari-hari kelam seseorang yang mengalami depresi dan berusaha mencari kebahagiaan sesaat, walaupun pada akhirnya itu gagal.

2. Bearings – Aforementioned

Ini merupakan lagu Bearings yang diambil dari album terbaru mereka ‘Blue in the Dark’. Walaupun tak secara gamblang berkisah tentang mental illness, lagu ini merepresentasikan perasaan kesepian dan pikiran-pikiran negatif atau nostalgia berlebihan yang kadang membuat kita tidak bisa fokus pada masa sekarang.

Bagi kamu yang mungkin sedang merasa sedih karena kehilangan seseorang atau sesuatu dalam hidupmu, lagu ini teman yang pas untuk waktu-waktu sedihmu. Musiknya yang menghentak, bisa bikin semangat.

3. Neck Deep – In Bloom

Sebagai salah satu deretan pada band ternama yang punya fanbase besar di seluruh dunia, Neck Deep sadar bahwa mereka memiliki kesempatan untuk membagikan awareness tentang kesehatan mental.

Salah satunya lewat lagu ‘In Bloom’ yang diambil dari album terbaru mereka ‘The Peace and Panic’ yang dirilis setahun lalu. Lagu ini secara tepat menggambarkan apa yang ada dalam pikiran seseorang dengan mental illness.

Sang vokalis, Ben, terinspirasi dari pengalaman pahitnya saat harus kehilangan sang Ayah. Rasa kehilangannya membuatnya tak bisa fokus dengan kehidupannya selama beberapa waktu.

4. Linkin Park – One More Light

Lagu yang berjudul ‘One More Light’ ini merupakan salah satu lagu paling mellow dalam album yang dirilis tahun 2017 itu. Mike Shinoda menjelaskan bahwa sebenarnya dipersembahkan untuk salah satu pegawai label rekaman yang meninggal dunia karena kanker.

Satu hari sebelum album ini dirilis, salah satu sahabat mereka Chris Cornell meninggal dunia. Lagu ini setelah itu dinyanyikan Linkin Park sebagai tribut untuk rekan mereka. Beberapa bulan kemudian, Chester meninggal bunuh diri karena depresi yang melandanya selama bertahun-tahun.

Footage Chester saat menyanyikan lagu ini secara langsung kemudian dijadikan video klip sekaligus tribut untuknya.

5. Boston Manor – Bad Machine

Lagu yang diambil dari album terbaru band asal Inggris ini sedikit banyak juga menceritakan beberapa tanda-tanda depresi, mental illness, dan perasaan terkekang. Dipadu dengan melodi yang gelap, menghantui, tetapi juga heroik, lagu ini mampu menggambarkan perasaan kecewa mendalam dengan cukup apik.

Seluruh lagu dalam album ‘Welcome to the Neighborhood’ sebenarnya gelap, tetapi punya makna yang luas. Tak cuma mengenai kesehatan mental, tetapi juga kritik pada diri sendiri sebagai seseorang yang hidup di zaman modern dengan segala kemudahan dan tantangan.

6. Arrested Youth – Mirrors

Lagu mengenai mental health memang banyak didominasi musisi punk dan rok alternatif. Akan tetapi, kamu yang suka jenis musik lain bisa mencoba musisi pendatang baru Arrested Youth.

Dia merupakan penyanyi muda asal New York yang juga cukup gamblang menulis lirik tentang isu-isu yang berkembang di sekitarnya, utamanya anak muda. Salah satunya tentang kesehatan mental, yang ia tulis lewat lagu terbarunya ‘Mirrors’. Pada lagu ini ia menceritakan tentang anxiety disorder.

7. Real Friends – From The Outside

Lagu Popular yang Menyadarkanmu Pentingnya Kesehatan Mental

Lagu ini adalah single yang ditulis sang vokalis, Serta Lambton tentang pengalamannya dengan gejala bipolar disorder. Pada lirik dan video klipnya, mereka menggambarkan dengan jelas kegalauan serta ketidakpastian dalam diri seseorang yang menderita penyakit tersebut.

Secara spesifik, ia menyebut salah satu gejala paling nyata dan berdampak, ia sendiri tak bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Lebih kepada kesadaran bahwa kita sakit dan butuh bantuan tetapi tidak tahu bantuan apa yang sebenarnya ia butuhkan.

8. Movements – Colorblind

Kebanyakan lagu tentang kesehatan mental akan fokus pada perasaan pribadi yang dirasakan oleh sang penulis lagu. Namun, lagu ini akan mengajak kita menyelami dilema yang dialami orang yang depresi dan ingin sendiri, tak ingin merepotkan orang lain yang ada di sekitarnya.

Sebuah pengorbanan tulus yang entah itu benar atau tidak untuk dilakukan, tetapi ia merasa perlu melakukannya.

9. Hippo Campus – Anxious

Lagu yang diambil dari album terbaru Hippo Campus ini mendeskripsikan perasaan orang yang mengalami rasa khawatir yang berlebih, baik social anxieties atau kekhawatiran lainnya.

Tak peduli apakah kita mengalami anxiety disorder atau tidak, semua orang pernah merasa khawatir atau tidak percaya diri akan sesuatu. Seringkali kita tidak bisa mengungkapkannya dengan tepat apalagi mengerti apakah ini kekhawatiran biasa atau sudah berlebihan.

Berbeda dengan beberapa lagu lain yang lebih menghentak, lagu ini cukup unik dengan ketukan dan melodi yang nyaman didengarkan penggemar musik pop.

Ingat bahwa kamu gak pernah sendiri. Semoga lagu-lagu di atas bisa membantumu merasa lebih baik.

Beberapa Manfaat Musik Buat Kesehatan Mental dan Otakmu :

1. Mengurangi rasa sakit dan kegelisahan

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Brunei University di Inggris menyatakan bahwa musik mampu mengurangi rasa sakit dan kegelisahan. Penelitian yang melibatkan 7000 pasien ini membuktikan bahwa pasien yang mendengarkan musik pasca operasi lebih tenang dalam merasakan sakit dan mengurangi kegelisahan dibandingkan orang yang tidak mendengarkan musik.

2. Obat alami penghilang stres

Menurut beberapa penelitian, kadar kortisol tubuh menurun saat mendengarkan musik. Hal ini mengurangi stres yang menumpuk pada pikiran. Tetapi hal ini bergantung pada jenis musiknya. Musik santai lebih baik dalam menurunkan tingkat kelelahan otak yang menyebabkan stres.

3. Musik mampu mengontrol denyut jantung

Penelitian dari Universitas Oxford membuktikan bahwa frasa musik berulang dapat membantu dalam mengontrol denyut jantung dan tekanan darah. Efek musik dalam mengurangi stres mempengaruhi batang otak sehingga menjalar pada denyut jantung, denyut nadi, tekanan darah, dan suhu tubuh.

4. Mampu memunculkan memori

Musik-musik yang pernah didengarkan akan membangkitkan memori masa lampau. Ini membuat seseorang yang mendengarkan musik terkadang tersenyum dan menangis teringat masa lalu. Musik yang memiliki lirik yang penuh motivasi memicu kenaikan semangat hidup.

5. Memulihkan cedera otak

Para peneliti yang berasal dari University Of Helsinki di Finlandia menemukan bahwa pasien stroke yang mendengarkan musik selama dua jam dalam sehari memiliki memori dan verbal yang baik. Bahkan ada studi lain yang berhasil membuktikan terapi musik yang menyembuhkan kemampuan bicara pada pasien stroke.

Deretan 12 Film Mengenai Kesehatan Mental

Deretan 12 Film Mengenai Kesehatan Mental – Tanggal 10 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Awalnya hari ini diperingati berdasarkan prakarsa Federasi Kesehatan Mental Dunia.

Tujuan peringatan Hari Kesehatan Mental adalah untuk melakukan advokasi sekaligus edukasi terhadap publik mengenai isu kejiwaan. Kampanye yang dimulai sejak 1992 itu awalnya tidak memiliki tema khusus.

Barulah sejak 1994 setiap tahun ada tema yang sengaja diperingati. Tema pertama saat itu adalah peningkatan kualitas pelayanan kesehatan mental.

Situasi pelayanan kesehatan mental di Indonesia pun masih memprihantinkan. Satu psikiater melayani ratusan ribu orang. Kita hanya memiliki kurang dari 50 rumah sakit jiwa.

Masih banyak rumah tangga yang memasung anggota keluarganya karena tidak memahami isu mengenai kesehatan mental. Contoh lebih mudah dapat kita temukan di jalan.

Bukankah kita acapkali melihat gelandangan yang memiliki gangguan jiwa? Sayangnya baik masyarakat maupun pemerintah masih belum cukup peduli pada isu kesehatan mental. slot online

Deretan Film Mengenai Kesehatan Mental

Demi meningkatan kesadaran publik mengenai isu kesehatan mental, kita dapat menggunakan pendekatan melalui karya seni. Misalnya film. Beberapa film berikut ini mengangkat isu kesehatan mental dengan sangat apik.

Kita akan dibuat untuk lebih memahami dan melihat dunia dari sudut pandang para penyintasnya. Melalui film-film ini diharapkan kita sebagai penonton tidak lagi memandang mereka melalui stigma yang merugikan.

1. Joker

Deretan Film Mengenai Kesehatan Mental

Joker tak hanya menyedot perhatian bagi para fans setia DC United saja tetapi juga masyarakat dunia. Pendekatan Joker yang unik karena tak seperti film superhero-villain biasa membuatnya banyak mendapat pujian maupun hujatan.

Tokoh utama dalam film ini, Arthur Fleck, diketahui mengalami delusi. Arthur juga memiliki masalah kesehatan lainnya dan kesulitan untuk membaur di tengah masyarakat. Namun yang disayangkan, lingkungannya justru tidak berempati dan malah membuat Arthur makin tertekan.

Ada pula scene yang menggambarkan ketika Arthur sedang melakukan konseling. Meski pahit, kita mendapatkan gambaran nyata dari kesulitan hidup yang dialami orang-orang seperti Arthur.

2. Silver Linings Playbook

Akting gemilang Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence mampu menggambarkan dengan baik bagaimana orang-orang yang hidup dengan masalah mental. Kisahnya pun unik yakni mengenai dua orang yang sedang berjuang untuk sembuh dari kondisi gangguan mentalnya dan justru menemukan romansa.

Terapi yang digunakan adalah berdansa. Salah satu kelebihan film ini dibandingkan film lainnya adalah menunjukkan usaha para penyintas untuk tetap berfungsi dengan baik dan memiliki kehidupan sosial.

3. Shutter Island

Dapat dikatakan seluruh film dengan Leonardi DiCaprio di dalamnya adalah masterpiece. Begitu pula film ini. Meski demikian dibanding dua film sebelumnya, Shutter Island jauh lebih menghibur. Film ini tidak menggambarkan kondisi penyintas yang sedang berusaha sembuh atau bertahan hidup.

Plot twistnya sendiri sangat menarik dan menurut sebagian penonton sangat mengejutkan. Kita akan diajak bermain-main dalam permainan Laeddis, seorang pasien rumah sakit jiwa yang mengejar dirinya sendiri.

4. Black Swan

Natalie Portman memerankan tokoh seorang balerina yang berjuang untuk menjadi Black Swan dalam sebuah pementasan. Demi mendapatkan peran tersebut, ia berjuang hingga merusak kuku kakinya. Ia juga mengalami anoreksia dan halusinasi.

Film ini sendiri menggambarkan perjuangan dan persaingan balerina yang keras. Pada salah satu scene, Natalie melakukan masturbasi demi mendalami peran sebagai Black Swan. Mungkin ini adalah salah satu karakter tersulit yang pernah diperankan oleh Natalie di antara film-film lainnya.

5. The Perks of Being Wallflower

Seseorang pernah mengatakan pada Emma Watson bahwa keputusan untuk fokus menuntut ilmu akan membuatnya hilang dari dunia hiburan. Apalagi setelah mengetahui ia memilih bermain dalam film “kecil” seperti The Perks of Being Wallflower.

Di sini ia beradu akting dengan Logan Lerman dan Ezra Miller. Kisahnya tentang seorang remaja lelaki yang mengalami depresi klinis dan sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Namun ia memiliki dua orang teman, kakak beradik saudara tiri, yang membantunya untuk bertahan hidup.

Ia sempat lupa dengan alasan mengapa ia depresi hingga akhirnya kenangan buruk itu kembali. Ia adalah anak lelaki yang dilecehkan oleh perempuan dewasa. Film ini mengangkat topik yang masih jarang diperhatikan orang yaitu para lelaki yang menjadi korban pelecehan seksual dari perempuan.

6. Memento

Deretan Film Mengenai Kesehatan Mental

Meski brilian, banyak yang kesulitan mencerna film ini karena merasa bingung dengan jalan cerita atau maksud dari plotnya. Sebenarnya film ini mengisahkan tentang si pemeran utama yang mengalami kondisi dimana ia tak bisa membuat kenangan baru.

Seakan hidupnya terus mengulang scene yang sama. Kondisi amnesia ini juga scene yang diulang-ulang membuat beberapa penontong merasa jenuh dan heran. Memento sendiri menjadi semakin menarik karena menggunakan dua cara untuk menjelaskan jalan ceritanya.

Pertama, bagian film yang berwarna. Kedua adalah film yang dikemas dalam bentuk hitam putih.

7. The Machinist

Christian Bale sempat menempuh diet ekstrem dan membuat tubuhnya terlihat mengerikan, sama seperti Joaquin Phoenix dalam Joker. Di sini ia memerankan seseorang yang mengalami insomnia parah sehingga kondisi mentalnya mulai terganggu. Ia menjadi berhalusinasi.

Sampai-sampai ia berpikir bahwa seseorang di tempat kerjanya terperangkap dalam mesin dan kehilangan tangan. Sebenarnya kondisi insomnia parah yang ia alami bukanlah hal sepele. Satu dari sepuluh orang dewasa di Amerika juga mengalami kondisi yang sama.

8. Donnie Darko

Donnie adalah seorang remaja yang menunjukkan gejala skizofrenia. Ia mengalami kondisi berjalan dalam tidur. Tak hanya itu, ia mengalami halusinasi di mana ia berbicara dan dipengaruhi oleh sosok yang memakai kostum kelinci.

Kelinci itu mengatakan bahwa dunia akan segera kiamat. Donnie pun sampai melakukan hal di luar nalar seperti membuat sekolahnya banjir. Donnie juga berhasil membuat rumah seseorang terbakar. Karena rasa percayanya, ia ingin melakukan sebuah misi sebelum dunia benar-benar berakhir berdasarkan nubuat si kelinci.

9. Modus Anomali

Tokoh utamanya adalah seorang lelaki tak bernama. Suatu hari ia terbangun di tengah hutan dan mendapati seluruh anggota keluarganya telah mati. Ia seakan terjebak dalam sebuah permainan dimana ia dipaksa mengungkapkan kasus kematian keluarganya.

Plot twist dari film ini ternyata pria itu sendirilah yang menciptakan permainan tersebut. Ia adalah orang di balik serangkaian pembunuhan terhadap keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak. Lalu ia akan berakting seakan yang ia bunuh adalah keluarganya sendiri dan berusaha memecahkan misterinya.

10. The Girl on The Train

Seorang suami yang hipersex berselingkuh dari istrinya lalu menikahi seorang agen properti. Sang mantan istri yang patah hati menjadi terobsesi. Ia tak hanya mencari tahu kehidupan sang mantan suami dengan istri barunya tetapi juga mengamati kehidupan rumah tangga tetangganya.

Sang tetangga yang ia amati sebenarnya juga memiliki rahasia hidupnya sendiri. Tak hanya memiliki nafsu yang tinggi dan berselingkuh, sang tetangga memiliki trauma sehingga menolak memiliki anak. sementara itu istri baru dari mantan suaminya mulai menyadari bahwa sang suami memiliki perilaku yang tidak beres.

11. Gone Girl

Kisahnya tentang pasutri dan sang suami justru berselingkuh. Istrinya yang sakit hati lalu membalas sang suami dengan menciptakan sebuah rencana manipulatif. Ia membuat orang-orang mengira bahwa suaminya membunuhnya.

Karakter si istri tak hanya licik tetapi juga cerdas dan nekat. Ada beberapa scene yang membuat kita bergidik ngeri seperti memalsukan perkosaan, melukai diri sendiri dengan palu, sampai mengeluarkan darah dari tubuh agar terlihat seperti TKP pembunuhan. Tak hanya menyeret suaminya, sang istri juga menyeret mantannya.

12. The Silence of The Lambs

Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karangan Thomas Harris. Kisahnya tentang seorang agen FBI yang mencoba mengorek informasi dari tahanan khusus, seorang psikopat sekaligus kanibal. Informasi itu dibutuhkan untuk menangkap psikopat lainnya yaitu pelaku pembunuhan yang senang menguliti korbannya.

The Silence of The Lambs masuk ke dalam daftar salah satu film paling berpengaruh sepanjang masa. Selain skenario yang apik, deretan aktor dan aktrisnya merupakan para pemain dengan jam terbang tinggi. Menariknya, salah satu karakter psikopat di dalam film ini didasari dari kejadian nyata.

Permasalahan Mental yang Rawan Menyerang Mahasiswa

Permasalahan Mental yang Rawan Menyerang Mahasiswa – Dunia perkuliahan merupakan masa transisi yang menuntut seseorang untuk mulai hidup mandiri dan dapat mengatur segala sesuatunya sendiri, terlebih jika harus tinggal jauh dari orangtua.

Stres berat yang diterima selama masa ini, baik dari segi tuntutan akademik maupun sosial, dapat memengaruhi kesejahteraan mental seorang mahasiswa.

Dilansir dari Everyday Health, penelitian menunjukkan bahwa 27 persen anak kuliahan memiliki masalah mental. Apa sajakah masalah mental anak kuliah yang paling umum?

Bermacam-macam masalah mental anak kuliah yang paling umum

1. Depresi

Permasalahan Mental yang Rawan Menyerang Mahasiswa

Berdasarkan American Psychological Association, kasus depresi di tengah anak-anak kuliah meningkat sebanyak 10 persen selama 10 tahun terakhir. Depresi yang dibiarkan dan tidak diobati bisa berujung pada risiko bunuh diri. Pada negara Amerika bahkan bunuh diri adalah penyebab kematian kedua bagi mahasiswa. Terdapat lebih dari seribu kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa setiap tahunnya. slot indonesia

Tidak cuma di Amerika, bahkan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia juga cukup banyak. Salah satunya dari kasus itu seperti yang dilakukan oleh seorang mahasiswa asal Indonesia yang mengakhiri hidupnya karena tertekan oleh tugas kuliah.

Maka dari itu, cara mencegah depresi yang bisa dilakukan yaitu selalu membicarakan berbagai masalah pribadi maupun kuliah dengan sahabat yang Anda percaya. Hal tersebut dilakukan agar Anda tidak merasa sendirian dan bisa bertukar pikiran saat masalah datang.

2. Gangguan kecemasan

Gangguan kecemasan, kecemasan berlebih yang dialami seseorang dengan intensitas yang cukup sering sehingga tak jarang menganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan kecemasan terbagi dari beberapa jenis seperti gangguan kecemasan sosial, gangguan panik, fobia terhadap hal tertentu, dan gangguan kecemasan umum. Salah satu dari gejala gangguan kecemasan yang cukup serius ialah stres yang cukup ekstrem dan rasa khawatir yang berlebih sehingga menganggu kemampuan Anda untuk dapat berfungsi secara normal.

Penelitian yang memberikan hasil pembuktian sekitar 75 persen orang yang memiliki gangguan kecemasan umumnya menunjukkan berbagai gejalanya sebelum memasuki usia 22 tahun. Malahan, penelitian terbaru yang dilakukan pada mahasiswa di Amerika menyatakan bahwa 80 persen mahasiswa menyatakan sering stres dan 13 persen lainnya sudah didiagnosis dengan penyakit mental seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Bila Anda mengalami berbagai gejala gangguan kecemasan seperti gelisah, detak jantung meningkat, gemetar, serta kesulitan mengendalikan ketakutan dan kecemasan maka segeralah pergi ke pusat kesehatan kampus. Anda pun dapat segera mengonsultasikannya pada orangtua untuk dapat pergi ke terapis jika diperlukan.

3. Gangguan makan

Berbagai macam gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, dan binge eating (makan tak terkendali) adalah penyakit mental yang umum terjadi pada anak kuliah. Umumnya, stres dikarenakan berada serangkaian tugas yang menumpuk dan tinggal jauh dari orangtua dapat memicu gejala gangguan makan.

Suatu survey yang dilakukan oleh National Eating Disorders Screening Program menyatakan bawah sekitar 62 persen wanita di perguruan tinggi memiliki pola makan yang tidak normal yang bisa menjadi pemicu penyakit gangguan makan.

Untuk itu, jika Anda merasa memiliki pola makan yang tidak normal seperti makan banyak tetapi dimuntahkan kembali atau tidak ingin makan karena merasa bersalah jika makan banyak atau justru makan banyak dan tidak terkendali maka mintalah bantuan orang-orang terdekat untuk dapat memantau dan mengendalikan Anda.

4. Menyakiti diri sendiri

Perbuatan menyakiti dan melukai diri sendiri di beberapa bagian tubuh yang tidak terlihat umumnya perilaku yang dilakukan sebagai respon terhadap stres dan tekanan yang luar biasa besarnya. Sengaja tidak makan, membenturkan kepala, hingga menyayat lengan menggunakan silet adalah cara untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal yang membuat stres dan juga trauma.

Permasalahan Mental yang Rawan Menyerang Mahasiswa

Biarpun ada beberapa dari orang-orang yang sadar bahwa tindakannya ini membahayakan diri dan salah, tetapi banyak juga yang tidak menyadari bahwa melukai diri sendiri bukan cara terbaik untuk mengelola emosi yang sedang dirasakannya.

Sebuah lembaga survei yang dilakukan oleh para peneliti Cornell dan Universitas Princeton mendapatkan bahwa sekitar 20 persen dari mahasiswi dan 14 persen dari mahasiswa telah melakukan berbagai hal yang bertujuan menyakiti dirinya sendiri.  Disayangkan, hanya kurang dari 7 persen saja yang meminta bantuan pada orang terdekatnya.

Oleh karen hal itu, jika Anda mulai terpikir untuk melukai diri sendiri maka usahakan untuk mencari bantuan teman terdekat dan orangtua. Tidak boleh membiarkan pikiran negatif ini mengendalikan Anda hingga berujung pada menyakiti diri sendiri.

5. Penyalahgunaan alkohol dan narkoba

Alkohol tergolong ke dalam zat yang paling sering disalahgunakan oleh mahasiswa. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, alkohol, dan obat-obatan yang diresepkan (obat penenang) menjadi masalah utama yang pada akhirnya berkontribusi pada kecelakaan dan pelecehan seksual di kalangan mahasiswa.

Tekanan yang terlalu berlebih pada dunia perkuliahan bisa membuat mahasiswa melampiaskan dirinya pada hal-hal yag membuatnya tenang sementara seperti alkohol dan obat-obatan terlarang.

Penyimpangan dalam hal ini cenderung kearah negatif yang sering disebut dengan kenakalan remaja. Terdapat begitu banyak jenis kenakalan remaja, seperti perkelahian dan minum-minuman keras, pencurian, perampokan, perusakan/pembakaran, seks bebas bahkan narkoba.

6. Insomnia

Meskipun bukan termasuk penyakit mental, insomnia bisa menjadi salah satu gejala dari berbagai masalah mental seperti depresi dan gangguan kecemasan. Insomnia pun dapat menjadi masalah fisik yang serius jika dilakukan terus-menerus.

Mengerjakan tugas dan belajar hingga tengah malam, bangun pagi untuk menghadiri kelas, dan segudang kegiatan di organisasi bisa membuat mahasiswa mengalami insomnia dan kekurangan tidur. Untuk mengatasinya, Anda harus memiliki aturan tidur yang cukup ketat dan menghindari berbagai stimulan seperti kafein dan juga nikotin.

Sebuah studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bahwa perkiraan 27% pasien yang disurvei melaporkan “kesulitan tidur”. Kondisi ini mempengaruhi perempuan lebih banyak dari laki-laki. Perempuan pada umumnya dipercaya lebih sensitif dengan perubahan sehingga lebih rentan dengan kecemasan dan depresi—masalah medis yang menyebabkan insomnia.

Kondisi ini dapat mempengaruhi pasien pada usia berapa pun. Namun, peluangnya semakin meningkat pada orang yang sudah tua. Kondisi ini dapat dikelola dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan untuk diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

7. ADHD

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah angguan yang terjadi pada otak, ini ditandai dengan kurangnya perhatian dan/atau hiperaktif serta impulsif yang mengganggu fungsi dan perkembangan otak. Umumnya, kondisi ini akan muncul sebelum masa perkuliahan.

Akan tetapi, banyak orang yang bisa menyembunyikan atau mengendalikan gejala mereka di sekolah-sekolah menengah. Nah, ketika kuliah tuntutan dan tekanan akan meningkat, sehingga gejala ADHD akan semakin sulit dikendalikan. Oleh sebab itu, penelitian membuktikan sekitar 4 sampai 5 persen mahasiswa diperkirakan mengalami gangguan belajar.

Bermacam-macam penyakit mental ini perlu segera ditangani di awal kemunculannya. Masalahnya, keparahan kondisi tak hanya akan mengganggu prestasi akademik tetapi juga berakibat buruk pada kesehatan mental secara berkepanjangan.

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental – Angka rumah tangga dengan anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa naik. Didasarkan pada data dari Kementrian Kesehataan, ada kenaikan jumlah sebesar 7% dari tahun 2013 ke 2018.

Kita mungkin terkejut dan mengira ada yang salah dengan kenaikan angka tersebut. Namun sisi positifnya adalah masyarakat lebih teredukasi dengan isu kesehatan mental. Ini membuat mereka paham bahwa anggota keluarga mereka memiliki masalah kesehatan mental.

Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat yang melakukan pemasungan terhadap anggota keluarganya. Di tahun 2018 tercatat 14% rumah tangga melakukan pemasungan.

Merasa data kesehatan jiwa di Indonesia kurang dalam atau sulit diakses? Hal ini adalah fenomena di seluruh dunia. Menurut Forum Ekonomi Dunia, statistik global mengenai topik kesehatan mental diukur dan dipahami dengan buruk.

Hanya angka-angka saja tanpa penjelasan mengenai fenomenanya tidak akan membuat kita menjadi lebih paham tentang isu kesehatan mental. Apalagi kesehatan mental seringkali tidak dilaporkan dan tidak terdiagnosa.

Kita perlu data yang lebih komprehensif. Kita membutuhkan penjelasan agar dapat mengantisipasi gangguan kejiwaan dengan lebih baik. Padahal jumlah para penderitanya lebih dari cukup untuk mendapatkan perhatian pemerintah. idn slot online

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental

1 dari 6 orang dewasa di seluruh dunia memiliki satu atau lebih gangguan mental. Di Amerika, 1 dari 5 orang dewasa mengalami beberapa bentuk dari gangguan mental. Salah satu yang paling umum adalah anxiety alias kegelisahan.

Persentasenya mencapai 4% dari seluruh warga dunia. Perempuan menjadi kelompok rentan karena mendominasi angka gangguan mental di dunia. Selain itu, ada hubungan yang menarik antara tingkat pendidikan dengan kasus depresi yang dialami.

Ternyata kelompok yang menuntut ilmu hingga ke perguruan tinggi memiliki angka depresi lebih rendah dibanding tamatan SMA atau SMP.

Gangguan mental seringnya diasosiasikan dengan kasus kematian yang prematur. Fakta ini dapat kita lihat seperti pada kasus Choi Jinri alias Sulli atau Heath Ledger. Kita sudah berkali-kali melihat berita mengenai kasus figur publik yang meregang nyawa karena gangguan jiwa.

Warga dunia mendadak peduli. Media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa. Sayangnya dalam satu dua bulan, kita telah lupa. Kita pura-pura peduli hanya dalam jangka waktu sesaat saja. Di waktu lain, kejadian berikutnya terulang.

Ada orang yang merasa kesepian. Ada yang tak punya tempat untuk mencurahkan perasaan. Kemudian ia pergi meninggalkan kita. Kematiannya hanya kita pandang sebatas angka penderita gangguan jiwa.

Padahal mencegah jauh lebih baik dibandingkan dengan mengobati. Mengapa kita tak berusaha peduli? Bukankah kita tahu betapa mengerikan dampak dari gangguan jiwa terhadap hidup seseorang? Tak dapatkah kita lebih berempati? Setiap hari kita dapat melihat bukti bully di internet.

Tak hanya selebriti, bully pun dapat ditujukan kepada orang biasa. Kita menghakimi orang lain tanpa menyadari masalah yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Kita merasa nyaman berlindung di balik topeng anonimitas dunia maya sehingga merasa puas menyatakan kebencian pada pihak lain.

Survei yang dilakukan WHO menunjukkan hampir tiga persen remaja mengakui selalu merasa kesepian. Data dari Kementrian Kesehatan di 2013 menunjukkan hampir dua persen remaja baik di desa maupun di kota memiliki keinginan bunuh diri.

Jangan menganggap ini sebagai angka yang kecil. Mengingat banyak kasus tidak dilaporkan, bisa saja ini merupakan fenomena gunung es. Angkanya sangat mungkin lebih tinggi. Kita terbiasa malu dan menganggap kondisi tertekan sebagai kelemahan, bahkan aib.

Tanpa kita sadari mungkin di luar sana ada seseorang yang sedang merasa begitu sedih dan tidak mendapatkan bantuan. Inilah mengapa setiap 40 detik ada seseorang yang memutuskan melakukan bunuh diri.

Seharusnya kita memiliki lebih banyak rumah sakit jiwa. Sayangnya jumlah rumah sakit jiwa di Indonesia masih terlalu sedikit, begitu pula tenaga ahlinya. Tak semua puskesmas memiliki psikolog ataupun psikiater.

Berobat ke klinik swasta pun mahal harganya dan tak bisa dijangkau semua kalangan. Kita justru memandang sebelah mata ketika ada yang mengakui rasa tertekan yang ia alami. Choi Jinri pun merasakan hal yang sama.

Bisa jadi, sikap abai kitalah yang membuat mereka terbunuh. Kita terlalu sibuk hidup dengan bahagia tanpa menyadari derita saudara-saudara kita.

Salah satu gejala awal yang patut kita waspadai adalah merasa sulit tidur karena merasa terlalu banyak pikiran. X, salah seorang karyawan swasta di kota J, merasa karirnya meningkat dengan lambat. Ia membutuhkan penghasilan lebih besar untuk membiayai kehidupan rumah tangganya.

Selain itu X juga masih menempuh pendidikan dan membantu orangtua karena bagian dari sandwich generation. Sayangnya sekeras apapun berusaha, X merasa apa yang ia lakukan masih kurang. Kadang ia merasa sulit tidur karena terlalu khawatir terhadap hari esok.

Apakah cerita ini familiar? Ya, cerita ini dapat kita temukan di sekitar kita. Bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya.

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental

Begitu pula dengan Y di kota M. Ia sendiri telah aktif melakukan konseling untuk mengatasi masalahnya. Namun tentu saja rasa sedih itu kerap datang karena merasa hidupnya belum memiliki perubahan. Kasus berbeda dialami Z. Di usianya yang sudah seperempat abad, ia baru menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak ia ketahui.

Termasuk bagaimana caranya memiliki hubungan dengan lawan jenis. Z menghabiskan waktu masa kecilnya dengan bersekolah karena ia masuk program akselerasi. Ia bahkan tak tahu dua kali pengalamannya memiliki pasangan merupakan bagian dari toxic relationship.

Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya dalam hati, bagaimana rasanya menikmati masa kanak-kanak?

Banyak dari mereka mengaku tidak terbiasa membagikan isi hati pada orangtua. Ada tekanan tak kasat mata yang mendorong mereka untuk berlaku membanggakan di depan keluarga sehingga tak pernah bercerita. A mengakui hal itu.

Ia tak biasa mengungkapkan emosinya. Baginya, marah adalah hal yang tidak lazim. Di usia hampir mencapai kepala tiga, A baru menyadari pentingnya untuk terbuka dan bersandar pada orang lain. Akhir-akhir ini A mulai berani membuka diri dan menceritakan kegalauan hatinya.

Apa yang dialami oleh A cenderung dialami oleh laki-laki. Budaya patriarki mendorong lelaki untuk selalu terlihat kuat dan diharapkan menjadi seorang pejuang gagah. Mereka pantang menangis atau menunjukkan rasa lelah. Padahal ini tidak manusiawi.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan demi mengantisipasi kejadian bunuh diri maupun gangguan mental yang meburuk di masa mendatang. Kita bisa mencoba lebih peduli pada orang-orang di sekitar kita.

Sebagai seorang manusia dewasa, kita seharusnya mampu bertanggung jawab terhadap segala perilaku dalam bermedia sosial. Kita harus mengingat bahwa tiap kata-kata yang dikeluarkan jangan sampai menyakiti orang lain.

Kepedulian kita seharusnya tak sebatas pada kabar bunuh diri belaka atau tiap hari peringatan kesehatan mental dunia. Sudah seharusnya kita memikirkan hal ini setiap waktu agar tak ada lagi yang merasa sendirian di dunia ini.

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa – Barangkali belum banyak dari kita yang tahu bahwa tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS). Padahal, kampanye yang dilakukan untuk meningkatkan awareness terhadap pentingnya Kesehatan Jiwa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat fisik maupun mental ini telah dimulai sejak Oktober 1992 lho.

Spesial pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018 ini, temanya adalah “Young People and Mental Health in a Changing World”, sehubungan dengan ketetapan World Federation of Mental Health (WFMH) untuk memfokuskan perayaan HKJS tahun ini pada generasi muda dan dampak perubahan dunia pada kalangan anak atau remaja, tepatnya yang berusia 14-28 tahun.idn slot

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa

Subtema yang dipilih oleh WFMH pun tak lepas dari fenomena-fenomena yang saat ini sedang mengancam kestabilan jiwa generasi muda, di antaranya:

– Bullying

– Effects of Trauma on Young People

– Major Mental Illness and Young People

– Suicide and Young People

– Gender Identitt and Mental Well-being.

Seperti apa sih jiwa yang sehat itu?

Berlandaskan UU No.18 tahun 2014, bahwa Kesehatan Jiwa merupakan suasana saat seseorang mampu berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, sehingga ia paham akan kemampuannya sendiri, mampu menangani tekanan, mampu bekerja secara produktif, dan mampu memberi kontribusi untuk komunitasnya.

Terdapat juga orang-orang dengan berbagai Masalah Kesehatan Jiwa (OMDK) merupakan orang yang mempunyai kasus fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau mutu hidup sehingga berbahaya mengalami gangguan jiwa.

Selagi itu, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan didalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi didalam bentuk sekumpulan tanda-tanda dan/atau pergantian tabiat yang bermakna, serta mampu mengundang penderitaan dan halangan didalam mobilisasi fungsinya sebagai manusia.

Berdiskusi mengenai tantangan-tantangan pada generasi muda yang berkembang di dalam dunia yang tengah berubah ini, tentunya tak lepas dari kalangan millenial yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia maya (internet), ketimbang di dunia nyata. Ternyata, hal ini menyebabkan generasi muda lebih rentan mengalami kejahatan cyber, cyber bullying, kecenderungan mereka bermain video game yang mengandung unsur kekerasan tanpa mereka sadari.

Kondisi tersebut diperberat juga dengan ancaman dunia terkait semakin maraknya kasus remaja dengan LGBTQ, menyebabkan angka percobaan dan kejadian bunuh diri, serta angka penyalahgunaan Napza terus meningkat.

Perlu untuk diketahui oleh kita semua, bahwa remaja yang gagal menjawab tantangan zaman akan berada dalam bahaya yang cukup mengkhawatirkan, yaitu kemungkinan mengalami masalah kesehatan jiwa, yang bila tak dideteksi dan ditangani sejak dini, beresiko menyebabkan timbulnya gangguan jiwa.

Di sinilah peran orang tua sebagai anggota keluarga terdekat, perlu memahami kondisi tersebut sebagai bagian dari perubahan dunia. Jangan sampai keluarga gagal memberi pendampingan dalam menjawab kebutuhan remaja saat ini secara proporsional.

Saat tahun 2015, International Centre for Research on Woman (ICRW) mengungkap fakta-fakta berikut:

– 84% siswa mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah

– 75% siswa mengaku pernah melakukan kekerasan di sekolah

– 45% siswa laki-laki dan 20% siswa perempuan menyebut bahwa pelaku kekerasan adalah guru atau petugas sekolah

Selain perihal tersebut, menurut data UNICEF 2014, ada 40% siswa usia 13-15 tahun yang melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebayanya, 50% anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolahnya.

Menurut hasil Riskesdas 2013 mengutarakan situasi epidemiologi gangguan jiwa di Indonesia, di antaranya:

– Prevalensi gangguan mental emosional terhadap masyarakat berusia >15 tahun adalah sebesar 6% dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 11,6% dan paling rendah di Lampung sebesar 1,2%.

– Prevalensi gangguan jiwa berat masyarakat Indonesia 1,7 permil. Gangguan jiwa terbanyak adalah di DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah.

– Proporsi RT yang dulu memasung ART gangguan jiwa berat sejumlah 14,3% dan terbanyak terhadap masyarakat di pedesaan sejumlah 18,2%, serta terhadap golongan masyarakat dengan indeks kepemilikan terbawah sebanyak 19,5%.

Data WHO terhadap 2018 mengutarakan bahwa:

– Bunuh diri adalah penyebab kematian nomor 2 terbesar terhadap usia 15-29 tahun

– Depresi adalah gangguan jiwa yang umum diderita dan keliru satu penyebab didabilitas di dunia, diperkirakan 300 juta orang mengalami depresi

– Gangguan bipolar diperkirakan diderita kurang lebih 60 juta orang di dunia

– Skizofrenia dan penyakit psikosis lain diderita 37 juta orang di dunia

– Demensia diperkirakan diderita 50 juta orang di dunia

Terkait hal tersebut, di tahun 2018 ini, Kementerian Kesehatan RI telah tingkatkan jumlah layanan dan tenaga kebugaran jiwa, di antaranya:

– 48 RSJ dan RSKO di 28 provinsi (emergensi, one stop centre, juga layanan subspesialis)

– 269 RSU dengan layanan jiwa (emergensi psikiatri, poliklinik psikiatri, liaison psychiatry, rawat inap)

– 3602 Puskesmas dengan layanan jiwa (penyuluhan keswa, konseling, layanan kebugaran jiwa dasar yang terintegrasi di poli umum, kunjungan rumah, outreach, pemberdayaan, keluarga, rujukan)

– 1028 orang psikiater

– 451 orang psikolog

– 6500 perawat jiwa

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa

Dengan mengacu terhadap fakta-fakta yang mengancam kebugaran jiwa generasi muda selanjutnya di atas, sudah pasti Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini mampu dijadikan momen oleh para pemangku kepentingan untuk bahu-membahu di dalam rangka mewujudkaln masyarakat yang sehat jiwanya di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018 mampu menunjang Program Indonesia Sehat sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup di dalam lingkungan sehat, mampu menjangkau service kebugaran yang bermutu untuk menggapai derajat kebugaran yang setinggi-tingginya dengan melaksanakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Dalam sebuah Temu Blogger di dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia terhadap tanggal 4 Oktober di Ruang Naranta, Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Eka Viora, Sp.KJ mengatakan lebih dari satu aspek yang mampu berkontribusi terhadap kebugaran jiwa selama jaman remaja, di antaranya:

– Keinginan otonomi yang lebih besar, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan rekan sebaya, eksplorasi identitas seksual, peningkatan akses dan penggunaan teknologi

– Pengaruh sarana dan norma-norma gender mampu memperburuk disparitas antara realitas hidup remaja dan persepsi atau aspirasi mereka untuk jaman depan

– Kualitas kehidupan di dalam keluarga, hubungan dengan teman

– Tindak kekerasan layaknya pola pengasuhan kasar, penganiayaan, kekerasan seksual, bullying, serta persoalan sosio-ekonomi

– Masa remaja adalah periode penting untuk mengembangkan dan mempertahankan pola hidup sehat, olahraga teratur, mengembangkan keterampilan untuk mengatasi maslah, interpersonal skill, dan pengendalian emosi.

Banyak remaja yang tinggal di tempat terkena efek darurat kemanusiaan layaknya konflik, bencana alam, dan lain-lain. Situasi layaknya ini juga benar-benar rentan terhadap stres dan penyakit. Olehnya itu, benar-benar penting bagi kami untuk mengerti mengatasi bermacam kebutuhan remaja dengan situasi kebugaran jiwa beragam.

Deteksi dan obati sedini kemungkinan gejala dan potensi persoalan kejiwaan terhadap anak, supaya kami mampu berkontribusi menciptakan generasi sehat jasmani dan rohani, demi jaman depan bangsa yang lebih cemerlang.

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana?

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana? – Kelompok usia yang paling rentan menderita depresi adalah usia 75 tahun ke atas. Sebanyak 8,9 persen dari total penduduk berusia itu menderita depresi. Kalangan anak muda yang berusia 15 hingga 24 tahun juga menjadi kalangan yang paling banyak terkena depresi. Sebanyak 6,2 persen milenial muda depresi.

Masalah pada kesehatan mental ini memang telah menjadi isu yang semakin ramai dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Film Joker yang telah tayang di bioskop ini pun mengangkat topik mental illness ke dalam ceritanya. Sebetulnya, apa saja ya jenis gangguan mental yang bisa dialami seseorang? Yuk, disimak. slot online indonesia

1. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana?

Seseorang dengan masalah ini mengalami gangguan kecemasan saat merespons suatu objek atau situasi. Biasanya penderita akan mengalami rasa ketakutan yang hebat disertai dengan perubahan tanda fisik, seperti detak jantung yang semakin cepat, berkeringat, merasa pusing, serta sulit berkonsentrasi atau tidur.

Kecemasan ketika berada di tempat umum, kepanikan dan fobia terhadap sesuatu, juga termasuk ke dalam anxiety disorder. Penderita masalah ini hidup dengan perasaan penuh kecemasan, ketakutan, serta kekhawatiran berlebih.

Ada berbagai jenis anxiety disorder, yaitu:

– Generalized anxiety disorder (GAD)

Generalized anxiety disorder adalah kecemasan kronis yang ditandai dengan rasa khawatir dan tegang yang berlebihan. Jenis dari gangguan kecemasan ini berlangsung secara persisten dan cenderung tidak terkendali.

– Gangguan kecemasan sosial (Social anxiety disorder)

Social anxiety disorder, alias kecemasan sosial adalah rasa ketakutan ekstrem yang muncul ketika berada di tengah-tengah banyak orang.

2. Gangguan Suasana Hati (Mood Disorder)

Gangguan ini juga disebut gangguan afektif yang membuat penderitanya merasa sedih terus menerus atau perasaan terlalu bahagia yang berlebihan. Pergantian emosional atau fluktuasi dari perasaan bahagia menjadi sedih secara ekstrem juga termasuk gangguan ini, yang biasa kita kenal dengan Bipolar Disorder. Sebagian contoh gangguan lainnya seperti depresi jangka panjang, gangguan afektif musiman, perubahan suasana hati dan iritabilitas yang terjadi selama fase pramenstruasi, serta depresi karena penyakit fisik.

Gangguan bipolar dapat dikelompokan menjadi beberapa kategori diantaranya :

– Gangguan bipolar I. Pasien

Memiliki setidaknya satu episode manik yang dapat didahului atau diikuti oleh episode depresi hipomanik atau mayor. Dalam beberapa kasus, mania dapat memicu istirahat dari kenyataan (psikosis).

– Gangguan bipolar II.

Pasien sudah memiliki setidaknya satu episode depresi besar dan setidaknya satu episode hipomanik, tetapi Anda belum pernah mengalami episode manik.

– Gangguan Cyclothymic.

Pasien sudah memiliki setidaknya dua tahun – atau satu tahun pada anak-anak dan satu tahun pada masa remaja – dari banyak periode gejala hipomania dan periode gejala depresi (meskipun kurang parah daripada depresi berat).

– Tipe yang lain.

Merukapan gangguan bipolar dan terkait yang disebabkan oleh obat-obatan atau alkohol tertentu atau karena kondisi medis, seperti penyakit Cushing, multiple sclerosis atau stroke.

3. Gangguan Psikotik (Psychotic Disorder)

Gangguan psikotik termasuk gangguan jiwa parah yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, misalnya penyakit skizofrenia. Gejala paling umum dari gangguan ini adalah halusinasi (mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang tidak ada), serta delusi (mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi).

– Gangguan Psikotik yang Singkat (Brief Psychotic Disorder)

Seseorang yang mengalami gangguan psikotik yang singkat biasanya disebabkan karena suatu kejadian yang traumatis atau membuat stres, misalnya meninggalnya orang terdekat dan sebagainya.

Namun, seseorang yang mengalami gangguan psikotik yang singkat biasanya akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu.

4. Gangguan Makan (Eating Disorder)

Eating disorder merupakan penyakit serius dan sering kali fatal akibat gangguan parah pada perilaku makan seseorang. Gangguan paling umum adalah anoreksia (menganggap diri kelebihan berat badan padahal tidak), bulimia nervosa (makan dalam jumlah besar yang kemudian dikeluarkan secara paksa misalnya muntah), dan binge-eating (makan berlebihan dan sulit dihentikan).

Berikut adalah beberapa gejala gangguan makan berdasarkan jenisnya:

– Bulimia nervosa

Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang membuat penderitanya ingin segera membuang makanan yang dikonsumsinya dengan cara yang tidak sehat, antara lain dengan memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan dan menggunakan obat pencahar atau obat yang membuang cairan tubuh.

– Anoreksia nervosa

Gangguan ini menjadikan penderitanya membatasi asupan makannya karena merasa berat badannya berlebihan, meskipun pada kenyataannya, tubuhnya sudah ramping atau justru terlalu kurus. Penderita dari anoreksia nervosa juga akan menimbang berat badannya secara berulang-ulang.

5. Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD)

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana?

Seseorang dengan gangguan OCD selalu memiliki pikiran atau obsesi yang konstan terhadap sesuatu, sehingga mendorongnya untuk melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Salah satu contohnya adalah orang yang merasa ketakutan dengan kuman atau debu yang membuatnya terus menerus mencuci tangan atau anggota tubuh lainnya.

6. Gangguan Kontrol Impuls dan Kecanduan (Impulse Control and Addition Disorder atau ICAD)

Orang dengan gangguan ICAD tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Beberapa contoh dari gangguan ini antara lain Pyromania (menyulut api hingga menyebabkan kebakaran) dan Kleptomania (mencuri). Penderita ini juga biasanya kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan, atau kecanduan pada aktivitas tertentu seperti seks atau berbelanja.

7. Gangguan Kepribadian (Personality Disorder)

Personality disorder adalah gangguan terhadap kepribadian seseorang dan membuatnya memiliki pola pikir, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Jenis dari gangguan kepribadian antara lain borderline personality disorder, yaitu perubahan suasana hati yang intens, ketakutan akan ditinggalkan, perilaku impulsif dan tidak stabil.

Gangguan lainnya adalah antisocial personality disorder yang membuatnya seperti mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain, memanipulasi orang lain untuk kepentingan dirinya, tidak merasa bersalah atas tindakan buruk yang dilakukan, dan sebagainya.

8. Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD)

PTSD dapat muncul pada seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis atau mengerikan, seperti pelecehan fisik dan seksual, kematian tak terduga dari orang yang dicintai, atau bencana alam. Kenangan tidak menyenangkan tersebut tidak bisa hilang dan membuat penderita PTSD cenderung mati rasa secara emosional.

9. Gangguan Disosiatif (Dissociative Disorder)

Gangguan ini adalah gangguan kejiwaan parah atau perubahan dalam ingatan, kesadaran, dan identitas umum tentang diri mereka dan lingkungan penderita. Gangguan disosiatif umumnya dikaitkan dengan stres luar biasa yang diakibatkan oleh peristiwa traumatis yang dialami atau disaksikan oleh penderita. Contohnya seperti gangguan identitas kepribadian ganda. Penting sekali nih untuk kamu generasi muda lebih aware terhadap isu-isu kesehatan mental. Tidak boleh menganggap remeh masalah ini dan bantulah orang di sekitar kamu yang sepertinya menderita masalah mental. Apabila salah satu gangguan di atas sedang kamu alami, maka jangan takut untuk meminta bantuan dari orang terdekat atau professional.