Layanan Psikologi Pemerintah Indonesia Dalam Masa Pandemi

Layanan Psikologi Pemerintah Indonesia Dalam Masa Pandemi – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan potensi pengingkatan jumlah orang yang mengalami gangguan mental sebagai dapak wabah virus corona.

Jutaan orang di dunia menghadapi ancaman kematian dan penyakit, karantina, kemiskinan, serta kekhawatiran lain akibat wabah Covid-19.

“Isolasi, ketakutan, ketidakpastian, kekacauan ekonomi, semuanya menyebabkan atau dapat menyebabkan tekanan psikologis,” kata Direktur Departemen Kesehatan Mental WHO, Devora Kestel, dikutip dari Reuters, Kamis (14/5/2020). slot online

Dia menambahkan, peningkatan jumlah kasus penyakit mental mungkin terjadi. Karena itu, pemerintah setiap negara harus juga memberikan perhatian dalam menangani isu kesehatan mental, bukan hanya penderita Covid-19 saja.

Layanan Psikologi Pemerintah Indonesia Akibat Dampak Dari Penyebaran Corona

“Kesehatan mental dan kesejahteraan seluruh masyarakat sangat dipengaruhi oleh krisis ini, sehingga menjadi prioritas yang harus segera ditangani,” ujarnya, saat memaparkan laporan PBB dan pedoman kebijakan Covid-19 dan kesehatan mental.

Laporan PBB itu menyoroti beberapa wilayah dan golongan masyarakat yang rentan mengalami tekanan mental, termasuk anak-anak dan remaja yang terisolasi dari teman-teman dan sekolah serta petugas medis yang menyaksikan ribuan pasien terinfeksi dan meninggal dunia akibat virus corona.

Studi dan survei sejauh ini sudah menunjukkan dampak Covid-19 bagi kesehatan mental secara global. Para psikolog mengungkapkan kecemasan yang dihadapi anak-anak dan peningkatan kasus depresi serta kecemasan di beberapa negara. Kekerasan dalam rumah tangga juga meningkat.

Sebelumnya Reuters melaporkan hasil wawancara dengan para dokter dan perawat di Amerika Serikat. Mereka mengalami kepanikan, kecemasan, kesedihan, mati rasa, mudah marah, insomnia, dan mimpi buruk.

Belum lagi jutaan orang yang menghadapi masalah ekonomi atau berisiko kehilangan pekerjaan.

Kondisi ini diperparah dengan bermunculannya informasi hoaks tentang sampai kapan pandemi berlangsung yang membuat mereka cemas dan putus asa menghadapi masa depan.

Dua bulan sudah virus corona (Covid-19) masih menyebar di seluruh pelosok Tanah Air, tercatat sudah lebih dari 12 ribu penduduk Indonesia positif terinfeksi virus corona.

Namun nyatanya, penyebaran virus corona ini membuat sebagian besar penduduk di dunia, termasuk Indonesia, mengalami stres, cemas, bahkan bosan berlebih.

Dalam sebuah survei yang dilakukan American Psychiatric Association (APA) terhadap lebih dari 1000 orang dewasa di Amerika serikat, ditemukan bahwa 48% responden merasa cemas mereka akan tertular virus corona.

Layanan Psikologi Pemerintah Indonesia Akibat Dampak Dari Penyebaran Corona

Lebih dari sepertiga responen (36%) mengatakan pandemi Covid-19 berdampak serius pada kesehatan mental mereka, dan 59% menjawab efeknya cukup berat pada kehidupan sehari-hari.

Melihat hal ini, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko mengatakan pemerintah meluncurkan layanan psikologi untuk tetap menyehatkan jiwa raga penduduk Indonesia.

Dilansir dari beberapa sumber, layanan psikologi tersebut bernama Sehat Jiwa (Sejiwa).

Tak asal meluncurkan layanan psikologi, Moeldoko mengatakan bahwa pemerintah mengacu pada data sebelum memutuskan untuk membuat layanan tersebut.

Ada data dari Lemabaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, dalam rentang waktu 16-30 Maret tercatat ada 59 kasus kekerasan terhadap wanita.

Dipaparkan bahwa dari 59 kasus tersebut 17 di antaranya adalah kekerasan dalam rumah tangga.

“KDRT yang ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

 Terdapat juga Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) Jember menyediakan 15 psikolog bagi warga yang hendak konsultasi dampak psikologis akibat virus corona. Selama dibuka, sudah ada tiga orang yang memanfaatkan layanan tersebut. Mereka mengalami gangguan psikis sehingga meminta bantuan psikolog.

“Himpsi memang menyediakan layanan konseling gratis, khusus untuk mengatasi gangguan psikologis akibat penyebaran corona,” kata Ketua Tim Konseling Covid–19 Himpsi Jember, Nurhasanah, kepada Kompas.com, via telepon, Rabu (8/4/2020).

Dia menuturkan, konseling tersebut terbuka bagi masyarakat, terutama orang dengan risiko dan orang dalam pemantauan (ODP). “Begitu juga dengan keluarga mereka, termasuk keluarga pasien dalam pengawasan (PDP),” ujar dia. Dia mengatakan, banyak warga mengalami kekhawatiran dan kecemasan karena pandemi virus corona. Hal itu berdampak pada pola tidur hingga hubungan dengan orang lain. “Ada yang mudah marah, tersinggung, ada juga klien yang saya tangani, anaknya ramai, lalu mau dikasi obat tidur agar anaknya cepat idur,” terang dia. Bahkan, ada juga warga yang habis pulang dari Surabaya, lalu mengalami kecamasan yang cukup parah.

Dia menuturkan, konseling tersebut terbuka bagi masyarakat, terutama orang dengan risiko dan orang dalam pemantauan (ODP). “Begitu juga dengan keluarga mereka, termasuk keluarga pasien dalam pengawasan (PDP),” ujar dia. Dia mengatakan, banyak warga mengalami kekhawatiran dan kecemasan karena pandemi virus corona. Hal itu berdampak pada pola tidur hingga hubungan dengan orang lain. “Ada yang mudah marah, tersinggung, ada juga klien yang saya tangani, anaknya ramai, lalu mau dikasi obat tidur agar anaknya cepat idur,” terang dia. Bahkan, ada juga warga yang habis pulang dari Surabaya, lalu mengalami kecamasan yang cukup parah.

Untuk itulah, Himpsi menyediakan layakan konsultasi dari WhatsApp tersebut tak hanya di Jember, tapi di seluruh daerah eks karesidenan Besuki. Nur Hasanah membagikan tips bagi masyarakat di tengah wabah corona ini agar tidak cemas. Pertama, masyarakat harus berpikiran postif, hilangkan pikiran negatif. Kedua, tubuh perlu relaksasi, setiap merasa cemas, lakukan relaksasi. “Buat kegiatan yang menyenangkan bersama dengan keluarga, nonton hal yang lucu, hindari informasi hoaks tentang corona, tapi perhatikan imbauan pemerintah,” tutur dia.

Sejauh ini kasus positif corona di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan ibukota Jakarta memiliki kasus terbanyak.

Ketika wabah mulai muncul di Indonesia dua bulan lalu, timbul kekhawatiran bahwa Pulau Bali yang menjadi pusat kunjungan turis utama di Indonesia akan menjadi salah satu tempat penyebaran utama.

Alasannya saat itu karena Bali memiliki penerbangan langsung dengan Wuhan, kota di China, sebagai tempat bermulanya virus corona.

Sejauh ini angka kasus corona dan kematian di Bali adalah 287 kasus dan empat kematian.

Sudah ada beberapa media internasional termasuk Al Jazeera yang membuat liputan mempertanyakan kemungkinan penyebab tidak banyaknya kasus corona di Bali.

Retno IG Kusuma adalah psikolog yang bekerja sebagai Kasub Psikologi di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah di Denpasar.

Dalam pantauan Retno, RSUP Sanglah sebagai rumah sakit terbesar di Bali memang tidak melihat adanya peningkatan pasien yang diduga mengidap COVID-19.

“Di Sanglah, belum tentu ada perhari yang masuk. Di rumah sakit juga tidak ada permintaan khusus soal pendampingan psikologi.”

“Kami juga membuka hotline namun tidak seramai daerah lain,” kata Retno dalam perbincangan dengan Sastra Wijaya hari Kamis (7/5/2020).

Retno Kusuma melihat kehidupan spiritual yang dijalankan warga Hindu Bali menjadi salah satu cara dalam menghadapi kehidupan sekarang ini di sana di tengah situasi pandemi.

“Ada keyakinan spiritual sehingga menyerahkan pada alam dan Hyang Widhi Wasa.” kaa Retno.

“Juga ada himbauan menghaturkan persembahan khusus untuk COVID-19 dilakukan cukup sering.”

“Persembahyangan dan banten yg dihaturkan untuk menolak bencana, contohnya seperti Gunung Agung.”

“Masyarakat Bali khusyu dan rutin memohon perlindungan dan djauhkan dari bencana besar letusan Gunung Agung dan sekarang COVID-19,” kata Retno lagi.