Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental – Angka rumah tangga dengan anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa naik. Didasarkan pada data dari Kementrian Kesehataan, ada kenaikan jumlah sebesar 7% dari tahun 2013 ke 2018.

Kita mungkin terkejut dan mengira ada yang salah dengan kenaikan angka tersebut. Namun sisi positifnya adalah masyarakat lebih teredukasi dengan isu kesehatan mental. Ini membuat mereka paham bahwa anggota keluarga mereka memiliki masalah kesehatan mental.

Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat yang melakukan pemasungan terhadap anggota keluarganya. Di tahun 2018 tercatat 14% rumah tangga melakukan pemasungan.

Merasa data kesehatan jiwa di Indonesia kurang dalam atau sulit diakses? Hal ini adalah fenomena di seluruh dunia. Menurut Forum Ekonomi Dunia, statistik global mengenai topik kesehatan mental diukur dan dipahami dengan buruk.

Hanya angka-angka saja tanpa penjelasan mengenai fenomenanya tidak akan membuat kita menjadi lebih paham tentang isu kesehatan mental. Apalagi kesehatan mental seringkali tidak dilaporkan dan tidak terdiagnosa.

Kita perlu data yang lebih komprehensif. Kita membutuhkan penjelasan agar dapat mengantisipasi gangguan kejiwaan dengan lebih baik. Padahal jumlah para penderitanya lebih dari cukup untuk mendapatkan perhatian pemerintah. idn slot online

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental

1 dari 6 orang dewasa di seluruh dunia memiliki satu atau lebih gangguan mental. Di Amerika, 1 dari 5 orang dewasa mengalami beberapa bentuk dari gangguan mental. Salah satu yang paling umum adalah anxiety alias kegelisahan.

Persentasenya mencapai 4% dari seluruh warga dunia. Perempuan menjadi kelompok rentan karena mendominasi angka gangguan mental di dunia. Selain itu, ada hubungan yang menarik antara tingkat pendidikan dengan kasus depresi yang dialami.

Ternyata kelompok yang menuntut ilmu hingga ke perguruan tinggi memiliki angka depresi lebih rendah dibanding tamatan SMA atau SMP.

Gangguan mental seringnya diasosiasikan dengan kasus kematian yang prematur. Fakta ini dapat kita lihat seperti pada kasus Choi Jinri alias Sulli atau Heath Ledger. Kita sudah berkali-kali melihat berita mengenai kasus figur publik yang meregang nyawa karena gangguan jiwa.

Warga dunia mendadak peduli. Media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa. Sayangnya dalam satu dua bulan, kita telah lupa. Kita pura-pura peduli hanya dalam jangka waktu sesaat saja. Di waktu lain, kejadian berikutnya terulang.

Ada orang yang merasa kesepian. Ada yang tak punya tempat untuk mencurahkan perasaan. Kemudian ia pergi meninggalkan kita. Kematiannya hanya kita pandang sebatas angka penderita gangguan jiwa.

Padahal mencegah jauh lebih baik dibandingkan dengan mengobati. Mengapa kita tak berusaha peduli? Bukankah kita tahu betapa mengerikan dampak dari gangguan jiwa terhadap hidup seseorang? Tak dapatkah kita lebih berempati? Setiap hari kita dapat melihat bukti bully di internet.

Tak hanya selebriti, bully pun dapat ditujukan kepada orang biasa. Kita menghakimi orang lain tanpa menyadari masalah yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Kita merasa nyaman berlindung di balik topeng anonimitas dunia maya sehingga merasa puas menyatakan kebencian pada pihak lain.

Survei yang dilakukan WHO menunjukkan hampir tiga persen remaja mengakui selalu merasa kesepian. Data dari Kementrian Kesehatan di 2013 menunjukkan hampir dua persen remaja baik di desa maupun di kota memiliki keinginan bunuh diri.

Jangan menganggap ini sebagai angka yang kecil. Mengingat banyak kasus tidak dilaporkan, bisa saja ini merupakan fenomena gunung es. Angkanya sangat mungkin lebih tinggi. Kita terbiasa malu dan menganggap kondisi tertekan sebagai kelemahan, bahkan aib.

Tanpa kita sadari mungkin di luar sana ada seseorang yang sedang merasa begitu sedih dan tidak mendapatkan bantuan. Inilah mengapa setiap 40 detik ada seseorang yang memutuskan melakukan bunuh diri.

Seharusnya kita memiliki lebih banyak rumah sakit jiwa. Sayangnya jumlah rumah sakit jiwa di Indonesia masih terlalu sedikit, begitu pula tenaga ahlinya. Tak semua puskesmas memiliki psikolog ataupun psikiater.

Berobat ke klinik swasta pun mahal harganya dan tak bisa dijangkau semua kalangan. Kita justru memandang sebelah mata ketika ada yang mengakui rasa tertekan yang ia alami. Choi Jinri pun merasakan hal yang sama.

Bisa jadi, sikap abai kitalah yang membuat mereka terbunuh. Kita terlalu sibuk hidup dengan bahagia tanpa menyadari derita saudara-saudara kita.

Salah satu gejala awal yang patut kita waspadai adalah merasa sulit tidur karena merasa terlalu banyak pikiran. X, salah seorang karyawan swasta di kota J, merasa karirnya meningkat dengan lambat. Ia membutuhkan penghasilan lebih besar untuk membiayai kehidupan rumah tangganya.

Selain itu X juga masih menempuh pendidikan dan membantu orangtua karena bagian dari sandwich generation. Sayangnya sekeras apapun berusaha, X merasa apa yang ia lakukan masih kurang. Kadang ia merasa sulit tidur karena terlalu khawatir terhadap hari esok.

Apakah cerita ini familiar? Ya, cerita ini dapat kita temukan di sekitar kita. Bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya.

Harus Ada Korban Dulu, Ironinya Isu Kesehatan Mental

Begitu pula dengan Y di kota M. Ia sendiri telah aktif melakukan konseling untuk mengatasi masalahnya. Namun tentu saja rasa sedih itu kerap datang karena merasa hidupnya belum memiliki perubahan. Kasus berbeda dialami Z. Di usianya yang sudah seperempat abad, ia baru menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak ia ketahui.

Termasuk bagaimana caranya memiliki hubungan dengan lawan jenis. Z menghabiskan waktu masa kecilnya dengan bersekolah karena ia masuk program akselerasi. Ia bahkan tak tahu dua kali pengalamannya memiliki pasangan merupakan bagian dari toxic relationship.

Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya dalam hati, bagaimana rasanya menikmati masa kanak-kanak?

Banyak dari mereka mengaku tidak terbiasa membagikan isi hati pada orangtua. Ada tekanan tak kasat mata yang mendorong mereka untuk berlaku membanggakan di depan keluarga sehingga tak pernah bercerita. A mengakui hal itu.

Ia tak biasa mengungkapkan emosinya. Baginya, marah adalah hal yang tidak lazim. Di usia hampir mencapai kepala tiga, A baru menyadari pentingnya untuk terbuka dan bersandar pada orang lain. Akhir-akhir ini A mulai berani membuka diri dan menceritakan kegalauan hatinya.

Apa yang dialami oleh A cenderung dialami oleh laki-laki. Budaya patriarki mendorong lelaki untuk selalu terlihat kuat dan diharapkan menjadi seorang pejuang gagah. Mereka pantang menangis atau menunjukkan rasa lelah. Padahal ini tidak manusiawi.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan demi mengantisipasi kejadian bunuh diri maupun gangguan mental yang meburuk di masa mendatang. Kita bisa mencoba lebih peduli pada orang-orang di sekitar kita.

Sebagai seorang manusia dewasa, kita seharusnya mampu bertanggung jawab terhadap segala perilaku dalam bermedia sosial. Kita harus mengingat bahwa tiap kata-kata yang dikeluarkan jangan sampai menyakiti orang lain.

Kepedulian kita seharusnya tak sebatas pada kabar bunuh diri belaka atau tiap hari peringatan kesehatan mental dunia. Sudah seharusnya kita memikirkan hal ini setiap waktu agar tak ada lagi yang merasa sendirian di dunia ini.

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa – Barangkali belum banyak dari kita yang tahu bahwa tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS). Padahal, kampanye yang dilakukan untuk meningkatkan awareness terhadap pentingnya Kesehatan Jiwa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat fisik maupun mental ini telah dimulai sejak Oktober 1992 lho.

Spesial pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018 ini, temanya adalah “Young People and Mental Health in a Changing World”, sehubungan dengan ketetapan World Federation of Mental Health (WFMH) untuk memfokuskan perayaan HKJS tahun ini pada generasi muda dan dampak perubahan dunia pada kalangan anak atau remaja, tepatnya yang berusia 14-28 tahun.idn slot

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa

Subtema yang dipilih oleh WFMH pun tak lepas dari fenomena-fenomena yang saat ini sedang mengancam kestabilan jiwa generasi muda, di antaranya:

– Bullying

– Effects of Trauma on Young People

– Major Mental Illness and Young People

– Suicide and Young People

– Gender Identitt and Mental Well-being.

Seperti apa sih jiwa yang sehat itu?

Berlandaskan UU No.18 tahun 2014, bahwa Kesehatan Jiwa merupakan suasana saat seseorang mampu berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, sehingga ia paham akan kemampuannya sendiri, mampu menangani tekanan, mampu bekerja secara produktif, dan mampu memberi kontribusi untuk komunitasnya.

Terdapat juga orang-orang dengan berbagai Masalah Kesehatan Jiwa (OMDK) merupakan orang yang mempunyai kasus fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau mutu hidup sehingga berbahaya mengalami gangguan jiwa.

Selagi itu, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan didalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi didalam bentuk sekumpulan tanda-tanda dan/atau pergantian tabiat yang bermakna, serta mampu mengundang penderitaan dan halangan didalam mobilisasi fungsinya sebagai manusia.

Berdiskusi mengenai tantangan-tantangan pada generasi muda yang berkembang di dalam dunia yang tengah berubah ini, tentunya tak lepas dari kalangan millenial yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia maya (internet), ketimbang di dunia nyata. Ternyata, hal ini menyebabkan generasi muda lebih rentan mengalami kejahatan cyber, cyber bullying, kecenderungan mereka bermain video game yang mengandung unsur kekerasan tanpa mereka sadari.

Kondisi tersebut diperberat juga dengan ancaman dunia terkait semakin maraknya kasus remaja dengan LGBTQ, menyebabkan angka percobaan dan kejadian bunuh diri, serta angka penyalahgunaan Napza terus meningkat.

Perlu untuk diketahui oleh kita semua, bahwa remaja yang gagal menjawab tantangan zaman akan berada dalam bahaya yang cukup mengkhawatirkan, yaitu kemungkinan mengalami masalah kesehatan jiwa, yang bila tak dideteksi dan ditangani sejak dini, beresiko menyebabkan timbulnya gangguan jiwa.

Di sinilah peran orang tua sebagai anggota keluarga terdekat, perlu memahami kondisi tersebut sebagai bagian dari perubahan dunia. Jangan sampai keluarga gagal memberi pendampingan dalam menjawab kebutuhan remaja saat ini secara proporsional.

Saat tahun 2015, International Centre for Research on Woman (ICRW) mengungkap fakta-fakta berikut:

– 84% siswa mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah

– 75% siswa mengaku pernah melakukan kekerasan di sekolah

– 45% siswa laki-laki dan 20% siswa perempuan menyebut bahwa pelaku kekerasan adalah guru atau petugas sekolah

Selain perihal tersebut, menurut data UNICEF 2014, ada 40% siswa usia 13-15 tahun yang melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebayanya, 50% anak melaporkan mengalami perundungan (bullying) di sekolahnya.

Menurut hasil Riskesdas 2013 mengutarakan situasi epidemiologi gangguan jiwa di Indonesia, di antaranya:

– Prevalensi gangguan mental emosional terhadap masyarakat berusia >15 tahun adalah sebesar 6% dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 11,6% dan paling rendah di Lampung sebesar 1,2%.

– Prevalensi gangguan jiwa berat masyarakat Indonesia 1,7 permil. Gangguan jiwa terbanyak adalah di DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah.

– Proporsi RT yang dulu memasung ART gangguan jiwa berat sejumlah 14,3% dan terbanyak terhadap masyarakat di pedesaan sejumlah 18,2%, serta terhadap golongan masyarakat dengan indeks kepemilikan terbawah sebanyak 19,5%.

Data WHO terhadap 2018 mengutarakan bahwa:

– Bunuh diri adalah penyebab kematian nomor 2 terbesar terhadap usia 15-29 tahun

– Depresi adalah gangguan jiwa yang umum diderita dan keliru satu penyebab didabilitas di dunia, diperkirakan 300 juta orang mengalami depresi

– Gangguan bipolar diperkirakan diderita kurang lebih 60 juta orang di dunia

– Skizofrenia dan penyakit psikosis lain diderita 37 juta orang di dunia

– Demensia diperkirakan diderita 50 juta orang di dunia

Terkait hal tersebut, di tahun 2018 ini, Kementerian Kesehatan RI telah tingkatkan jumlah layanan dan tenaga kebugaran jiwa, di antaranya:

– 48 RSJ dan RSKO di 28 provinsi (emergensi, one stop centre, juga layanan subspesialis)

– 269 RSU dengan layanan jiwa (emergensi psikiatri, poliklinik psikiatri, liaison psychiatry, rawat inap)

– 3602 Puskesmas dengan layanan jiwa (penyuluhan keswa, konseling, layanan kebugaran jiwa dasar yang terintegrasi di poli umum, kunjungan rumah, outreach, pemberdayaan, keluarga, rujukan)

– 1028 orang psikiater

– 451 orang psikolog

– 6500 perawat jiwa

Generasi Milenial Rentan Mengalami Gangguan Jiwa

Dengan mengacu terhadap fakta-fakta yang mengancam kebugaran jiwa generasi muda selanjutnya di atas, sudah pasti Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini mampu dijadikan momen oleh para pemangku kepentingan untuk bahu-membahu di dalam rangka mewujudkaln masyarakat yang sehat jiwanya di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018 mampu menunjang Program Indonesia Sehat sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup di dalam lingkungan sehat, mampu menjangkau service kebugaran yang bermutu untuk menggapai derajat kebugaran yang setinggi-tingginya dengan melaksanakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Dalam sebuah Temu Blogger di dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia terhadap tanggal 4 Oktober di Ruang Naranta, Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Eka Viora, Sp.KJ mengatakan lebih dari satu aspek yang mampu berkontribusi terhadap kebugaran jiwa selama jaman remaja, di antaranya:

– Keinginan otonomi yang lebih besar, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan rekan sebaya, eksplorasi identitas seksual, peningkatan akses dan penggunaan teknologi

– Pengaruh sarana dan norma-norma gender mampu memperburuk disparitas antara realitas hidup remaja dan persepsi atau aspirasi mereka untuk jaman depan

– Kualitas kehidupan di dalam keluarga, hubungan dengan teman

– Tindak kekerasan layaknya pola pengasuhan kasar, penganiayaan, kekerasan seksual, bullying, serta persoalan sosio-ekonomi

– Masa remaja adalah periode penting untuk mengembangkan dan mempertahankan pola hidup sehat, olahraga teratur, mengembangkan keterampilan untuk mengatasi maslah, interpersonal skill, dan pengendalian emosi.

Banyak remaja yang tinggal di tempat terkena efek darurat kemanusiaan layaknya konflik, bencana alam, dan lain-lain. Situasi layaknya ini juga benar-benar rentan terhadap stres dan penyakit. Olehnya itu, benar-benar penting bagi kami untuk mengerti mengatasi bermacam kebutuhan remaja dengan situasi kebugaran jiwa beragam.

Deteksi dan obati sedini kemungkinan gejala dan potensi persoalan kejiwaan terhadap anak, supaya kami mampu berkontribusi menciptakan generasi sehat jasmani dan rohani, demi jaman depan bangsa yang lebih cemerlang.

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana?

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana? – Kelompok usia yang paling rentan menderita depresi adalah usia 75 tahun ke atas. Sebanyak 8,9 persen dari total penduduk berusia itu menderita depresi. Kalangan anak muda yang berusia 15 hingga 24 tahun juga menjadi kalangan yang paling banyak terkena depresi. Sebanyak 6,2 persen milenial muda depresi.

Masalah pada kesehatan mental ini memang telah menjadi isu yang semakin ramai dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Film Joker yang telah tayang di bioskop ini pun mengangkat topik mental illness ke dalam ceritanya. Sebetulnya, apa saja ya jenis gangguan mental yang bisa dialami seseorang? Yuk, disimak. slot online indonesia

1. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana?

Seseorang dengan masalah ini mengalami gangguan kecemasan saat merespons suatu objek atau situasi. Biasanya penderita akan mengalami rasa ketakutan yang hebat disertai dengan perubahan tanda fisik, seperti detak jantung yang semakin cepat, berkeringat, merasa pusing, serta sulit berkonsentrasi atau tidur.

Kecemasan ketika berada di tempat umum, kepanikan dan fobia terhadap sesuatu, juga termasuk ke dalam anxiety disorder. Penderita masalah ini hidup dengan perasaan penuh kecemasan, ketakutan, serta kekhawatiran berlebih.

Ada berbagai jenis anxiety disorder, yaitu:

– Generalized anxiety disorder (GAD)

Generalized anxiety disorder adalah kecemasan kronis yang ditandai dengan rasa khawatir dan tegang yang berlebihan. Jenis dari gangguan kecemasan ini berlangsung secara persisten dan cenderung tidak terkendali.

– Gangguan kecemasan sosial (Social anxiety disorder)

Social anxiety disorder, alias kecemasan sosial adalah rasa ketakutan ekstrem yang muncul ketika berada di tengah-tengah banyak orang.

2. Gangguan Suasana Hati (Mood Disorder)

Gangguan ini juga disebut gangguan afektif yang membuat penderitanya merasa sedih terus menerus atau perasaan terlalu bahagia yang berlebihan. Pergantian emosional atau fluktuasi dari perasaan bahagia menjadi sedih secara ekstrem juga termasuk gangguan ini, yang biasa kita kenal dengan Bipolar Disorder. Sebagian contoh gangguan lainnya seperti depresi jangka panjang, gangguan afektif musiman, perubahan suasana hati dan iritabilitas yang terjadi selama fase pramenstruasi, serta depresi karena penyakit fisik.

Gangguan bipolar dapat dikelompokan menjadi beberapa kategori diantaranya :

– Gangguan bipolar I. Pasien

Memiliki setidaknya satu episode manik yang dapat didahului atau diikuti oleh episode depresi hipomanik atau mayor. Dalam beberapa kasus, mania dapat memicu istirahat dari kenyataan (psikosis).

– Gangguan bipolar II.

Pasien sudah memiliki setidaknya satu episode depresi besar dan setidaknya satu episode hipomanik, tetapi Anda belum pernah mengalami episode manik.

– Gangguan Cyclothymic.

Pasien sudah memiliki setidaknya dua tahun – atau satu tahun pada anak-anak dan satu tahun pada masa remaja – dari banyak periode gejala hipomania dan periode gejala depresi (meskipun kurang parah daripada depresi berat).

– Tipe yang lain.

Merukapan gangguan bipolar dan terkait yang disebabkan oleh obat-obatan atau alkohol tertentu atau karena kondisi medis, seperti penyakit Cushing, multiple sclerosis atau stroke.

3. Gangguan Psikotik (Psychotic Disorder)

Gangguan psikotik termasuk gangguan jiwa parah yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, misalnya penyakit skizofrenia. Gejala paling umum dari gangguan ini adalah halusinasi (mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang tidak ada), serta delusi (mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi).

– Gangguan Psikotik yang Singkat (Brief Psychotic Disorder)

Seseorang yang mengalami gangguan psikotik yang singkat biasanya disebabkan karena suatu kejadian yang traumatis atau membuat stres, misalnya meninggalnya orang terdekat dan sebagainya.

Namun, seseorang yang mengalami gangguan psikotik yang singkat biasanya akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu.

4. Gangguan Makan (Eating Disorder)

Eating disorder merupakan penyakit serius dan sering kali fatal akibat gangguan parah pada perilaku makan seseorang. Gangguan paling umum adalah anoreksia (menganggap diri kelebihan berat badan padahal tidak), bulimia nervosa (makan dalam jumlah besar yang kemudian dikeluarkan secara paksa misalnya muntah), dan binge-eating (makan berlebihan dan sulit dihentikan).

Berikut adalah beberapa gejala gangguan makan berdasarkan jenisnya:

– Bulimia nervosa

Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang membuat penderitanya ingin segera membuang makanan yang dikonsumsinya dengan cara yang tidak sehat, antara lain dengan memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan dan menggunakan obat pencahar atau obat yang membuang cairan tubuh.

– Anoreksia nervosa

Gangguan ini menjadikan penderitanya membatasi asupan makannya karena merasa berat badannya berlebihan, meskipun pada kenyataannya, tubuhnya sudah ramping atau justru terlalu kurus. Penderita dari anoreksia nervosa juga akan menimbang berat badannya secara berulang-ulang.

5. Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD)

Berbagai Jenis Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana?

Seseorang dengan gangguan OCD selalu memiliki pikiran atau obsesi yang konstan terhadap sesuatu, sehingga mendorongnya untuk melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Salah satu contohnya adalah orang yang merasa ketakutan dengan kuman atau debu yang membuatnya terus menerus mencuci tangan atau anggota tubuh lainnya.

6. Gangguan Kontrol Impuls dan Kecanduan (Impulse Control and Addition Disorder atau ICAD)

Orang dengan gangguan ICAD tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Beberapa contoh dari gangguan ini antara lain Pyromania (menyulut api hingga menyebabkan kebakaran) dan Kleptomania (mencuri). Penderita ini juga biasanya kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan, atau kecanduan pada aktivitas tertentu seperti seks atau berbelanja.

7. Gangguan Kepribadian (Personality Disorder)

Personality disorder adalah gangguan terhadap kepribadian seseorang dan membuatnya memiliki pola pikir, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Jenis dari gangguan kepribadian antara lain borderline personality disorder, yaitu perubahan suasana hati yang intens, ketakutan akan ditinggalkan, perilaku impulsif dan tidak stabil.

Gangguan lainnya adalah antisocial personality disorder yang membuatnya seperti mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain, memanipulasi orang lain untuk kepentingan dirinya, tidak merasa bersalah atas tindakan buruk yang dilakukan, dan sebagainya.

8. Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD)

PTSD dapat muncul pada seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis atau mengerikan, seperti pelecehan fisik dan seksual, kematian tak terduga dari orang yang dicintai, atau bencana alam. Kenangan tidak menyenangkan tersebut tidak bisa hilang dan membuat penderita PTSD cenderung mati rasa secara emosional.

9. Gangguan Disosiatif (Dissociative Disorder)

Gangguan ini adalah gangguan kejiwaan parah atau perubahan dalam ingatan, kesadaran, dan identitas umum tentang diri mereka dan lingkungan penderita. Gangguan disosiatif umumnya dikaitkan dengan stres luar biasa yang diakibatkan oleh peristiwa traumatis yang dialami atau disaksikan oleh penderita. Contohnya seperti gangguan identitas kepribadian ganda. Penting sekali nih untuk kamu generasi muda lebih aware terhadap isu-isu kesehatan mental. Tidak boleh menganggap remeh masalah ini dan bantulah orang di sekitar kamu yang sepertinya menderita masalah mental. Apabila salah satu gangguan di atas sedang kamu alami, maka jangan takut untuk meminta bantuan dari orang terdekat atau professional.